Kelemahan Chat GPT Untuk Mengerjakan Tugas

Kelemahan Chat GPT Untuk Mengerjakan Tugas

Pembukaan

Chat GPT merupakan bagian dari AI (Artificial Intelligence) yang resmi diluncurkan pada tanggal 30 November 2022 oleh OpenAI, Sam Altman. Artikel ini akan mendiskusikan tentang kekurangan Chat GPT dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan manusia.

Pro dan Kontra

Beberapa kalangan masyarakat menanggapi munculnya Chat GPT dari dua sisi, yakni pro dan kontra. Seperti dilansir dari wikipedia, menyebutkan bahwa Samantha Lock dari majalah The Guardian senang dengan kemunculan Chat GPT karena menurutnya Chat GPT mampu menulis teks secara detail seperti manusia. Kevin Roose dari The New York Times berpendapat bahwa Chat GPT merupakan kecerdasan tiruan terbaik yang pernah diperkenalkan kepada masyarakat. Dan Gillmor, seorang penuli teknologi sangat mendukung kehadiran Chat GPT karena alasan mampu meringankan pekerjaan siswa. Kelsey Piper dari website VOX menyatakan bahwa kemunculan Chat GPT membuat masyarakat tercengang karena kepintarannya, meskipun ada kekurangannya.
Sekarang kita akan membahas kontradiksi penggunaan Chat GPT. Masih dilansir dari wikipedia, Stuart Cobbe, akuntan dari Inggris dan Wales menguji seberapa cerdas Chat GPT dengan melontarkan pertanyaan secara tertulis dari sampel soal ujian dari website ICAEW. Hasil skor chat GPT dalam menjawab soal ujian hanya 42%, di bawah standar nilai kelulusan 55%.
Chat GPT memperoleh kritikan pedas dari para guru, jurnalis, artis, ahli etika, akademisi, dan advokat publik. Mereka menuduh bahwa Chat GPT hanyalah robot yang berhalusinasi. Mike Pearl mengetes kecerdasan chat GPT dengan menanyakan negara mana yang paling besar di Amerika Tengah, selain meksiko. Chat GPT menjawab “Guatemala”. Padahal jawaban yang benar adalah “Nikaragua”.

Kelemahan Chat GPT

Chat GPT Memberikan Jawaban yang Bias

Seperti yang tertulis di website openai.com, Chat GPT sering kali menulis jawaban yang seolah-olah benar dan masuk akal, padahal jawabannya tidak akurat atau bahkan sangat ngawur sekali. Hal ini terjadi karena Chat GPT bekerja dengan menerapkan sistem Reinforcement Learning from Human Feedback (RFHL) dan dapat menyesatkan.

Chat GPT Lemah dalam Memahami Kompleksitas Bahasa

Kelemahan ini mengarah pada kebingungan Chat GPT dalam memahami struktur bahasa yang rumit atau ambigu.
Contoh kalimat ambigu dan dapat membuat Chat GPT salah tafsir adalah:
“Setelah dia menemukan buku yang hilang, dia memberikannya kepadanya.”
Kalimat di atas memiliki ambiguitas yang tinggi karena tidak jelas siapa yang memberikan buku dan ditujukan kepada siapa. Manusia dapat menggunakan konteks dan pengetahuan tambahan untuk menafsirkan kalimat tersebut, tetapi Chat GPT kemungkinan besar akan menghasilkan kesalahan interpretasi dan menjadikan suatu permasalahan.
Contoh lainnya adalah kalimat dengan struktur sintaksis rumit atau tidak umum, seperti yang ada di puisi atau kalimat yang dibuat dengan membubuhi majas atau kiasan untuk menciptakan efek artistik. Chat GPT berpeluang besar salah mengartikan kalimat-kalimat tersebut.

Chat GPT Hanya Dapat Mengenal Informasi Pada Batas Tahun 2021

Chat GPT mempunyai batasan pemerolehan pengetahuan hanya sampai dengan tahun 2021. Hal ini berarti, user (pengguna) tidak dapat meminta informasi yang terjadi setelah 2021 kepada Chat GPT. Jika user memaksakannya, kemungkinan besar Chat GPT akan memberikan informasi yang sangat ngawur alias tidak akurat.
Contoh:
Jika Anda bertanya tentang perkembangan informasi terkait pemilihan umum presiden dan wakil presiden Republik Indonesia pada tahun 2023, maka Chat GPT tidak akan bisa memberikan informasi yang tepat, bahkan menolak untuk memberikan informasi dengan menuliskan kalimat permintaan maaf.
Contoh
Pengguna: Bagaimana perkembangan informasi terkait kegiatan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia di tahun 2023?
Chat GPT:
Maaf, tetapi saya tidak memiliki informasi terkini atau perkembangan terbaru setelah tahun 2022. Saya sarankan Anda memeriksa sumber berita terpercaya, situs web pemerintah, atau sumber-sumber resmi lainnya untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kegiatan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia di tahun 2023. Jangan ragu untuk mencari berita terkini dari sumber-sumber yang dapat diandalkan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terkini.

Chat GPT Memiliki Kelemahan dalam Memahami Hal Yang Bersifat Kontekstual

Chat GPT dapat merespon informasi yang terdengar masuk akal, tetapi sejatinya tidak tepat dalam konteks atau informasi tertentu. Ini dapat terjadi karena model tidak selalu memahami konteks dengan mendalam dan mungkin mengandalkan pola atau asosiasi yang diidentifikasi selama pelatihan.
Contoh
Pengguna: “Apa aturan umum untuk menggunakan ‘a’ dan ‘an’ dalam bahasa Inggris?”
Chat GPT: “Anda biasanya menggunakan ‘a’ sebelum kata benda yang dimulai dengan konsonan dan ‘an’ sebelum kata benda yang dimulai dengan vokal.”
Meskipun tanggapan ini terdengar masuk akal pada awalnya, aturan sebenarnya adalah menggunakan article ‘a’ sebelum kata benda yang dimulai dengan konsonan bunyi (bukan hanya konsonan) dan ‘an’ sebelum kata benda yang dimulai dengan vokal bunyi. Sehingga, tanggapan tersebut memberikan informasi yang sedikit tidak tepat dalam konteks peraturan penggunaan article “a” dan “an” dalam bahasa Inggris.
Penting untuk selalu melakukan verifikasi terhadap informasi grammar dan bahasa Inggris dari sumber-sumber yang terpercaya, terutama ketika menghadapi pertanyaan atau topik yang memerlukan keakuratan gramatikal.

Pengetahuan Awal yang Terbatas

Chat GPT mengambil data informasi dari manusia (human) yang menginputnya ke dalam internet seperti blog, website, dan lain-lain, kemudian Chat GPT mengambil data-data tersebut. Hal ini sangat memungkinkan kredibilitas dan keabsahan yang dikeluarkan oleh Chat GPT masih meragukan.

Chat GPT Tidak Memiliki Emosi

Chat GPT tidak memiliki emosi atau kesadaran seperti layaknya manusia. Chat GPT bekerja berdasarkan asosiasi dalam data pelatihan untuk menghasilkan respons berbasis teks. Meskipun Chat GPT dapat menghasilkan tanggapan yang terlihat atau terdengar seperti respons emosional, sebenarnya tanggapan itu hanyalah hasil dari pengolahan bahasa algoritma dan bukan indikator adanya emosi atau perasaan sejati.

Chat GPT dan AI berbasis teks serupa dapat menghasilkan teks yang memiliki unsur artistik, seperti halnya novel, cerita pendek, puisi, dan teks lainnya. Model ini dilatih dengan dataset yang mencakup berbagai jenis teks, termasuk karya sastra, sehingga mereka dapat menghasilkan teks dengan gaya dan struktur yang mirip dengan karya manusia. Namun, penting untuk diingat, meskipun model dapat menciptakan teks yang terlihat artistik, karya tersebut kurang memiliki kedalaman, keaslian, dan pemahaman emosional yang mendalam seperti hasil karya manusia. Model ini cenderung menggabungkan pola yang telah dikenali dari data pelatihan mereka, dan hasilnya mungkin terlihat “artistik” secara formal tetapi kurang dalam hal kreativitas dan makna mendalam.

Chat GPT Sering Mengulang-Ulang Kata atau Kalimat

Pengulangan kata atau kalimat adalah salah satu masalah umum yang dapat terjadi yang dihasilkan oleh Chat GPT. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pola yang terpilih selama pelatihan dan algoritma generatif yang digunakan.
Pola dalam Data Pelatihan: Jika Chat GPT menemukan pola pengulangan dalam data pelatihan, ia cenderung menghasilkan respons dengan mengulang pola tersebut.
Ketidaksempurnaan Pelatihan: Meskipun Chat GPT ini melibatkan proses pelatihan yang canggih, masih mungkin terjadi ketidaksempurnaan atau kelebihan pelatihan yang menyebabkan model mengulang kata atau kalimat.
Keterbatasan Konteks: Model memiliki batasan panjang konteks, dan kadang-kadang pengulangan mungkin muncul karena model tidak dapat “mengingat” informasi dengan baik di sepanjang percakapan yang panjang.

Chat GPT Terkadang Menghasilkan Respons yang Manipulatif

Tanggapan yang dihasilkan oleh Chat GPT bisa terlihat manipulatif atau tidak sesuai dengan harapan pengguna karena beberapa alasan:
Bias dalam Data Pelatihan: Jika data pelatihan yang digunakan untuk melatih model memiliki bias tertentu, model dapat menghasilkan tanggapan yang mencerminkan bias ini. Bias tersebut dapat mencakup asumsi tertentu, pandangan, atau sudut pandang yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau nilai pengguna.
Pemahaman Konteks yang Terbatas: Model seperti GPT memiliki batasan dalam memahami konteks yang lebih luas, dan respons yang dihasilkan mungkin tidak selalu mencerminkan pemahaman yang akurat tentang pertanyaan atau instruksi yang diberikan.
Ketidaksempurnaan dalam Pelatihan: Meskipun GPT melibatkan pelatihan yang canggih, masih mungkin ada ketidaksempurnaan yang dapat menyebabkan tanggapan yang tidak diinginkan.

Penutup

Saat ini kita hidup di dunia digital, kehadiran AI (Artificial Intelligence) tidak bisa kita hindari sepenuhnya. Chat GPT merupakan salah satu AI yang terkenal dan saat ini menjadi kebutuhan pelajar, pekerja, dan profesi lainnya. Chat GPT sekilas memiliki banyak keunggulan dan membantu pekerjaan manusia, namun di balik itu ternyata Chat GPT memiliki sejumlah keterbatasan dan kelemahan.
Kita sebagai pengguna, seharusnya, lebih memprioritaskan nalar kita dengan memanfaatkan otak kita dalam memecahkan masalah. Chat GPT tidak boleh sampai mengendalikan kita. Kita sebagai manusia harus mampu memanfaatkan kemampuan diri kita.
Jasa joki pengerjaan tugas bahasa Inggris mengerjakan segala bentuk tugas bahasa Inggris dengan memanfaatkan kemampuan otak dan perasaan manusia. Kita sama sekali tidak menggunakan AI (Artificial Intelligence). Jadi, setelah membaca artikel ini, apakah kamu masih mau tergantung pada Chat GPTketika memperoleh tugas dari guru atau dosen?